Postingan

Rindu

Bergetar jari ini menulis rindu dalam puisi Terseret oleh waktu Meninggalkan jejak di tanah basah Aku kira basah ini dari hujan yang membendung Ternyata di guyur oleh air mata penderitaan Jiwa ini hingga kering Yang di rindukan tak jua sadar Mata dan hati ini selalu menjaga Tanpa berkedip dan berhenti berdetak Tapi justru itu yang membuatku tenggelam dalam rasa takut Aku takut jika mereka lelah menjaga pandangan dan perasaan Entah siapa yang akan lebih dulu ingkar Apa bibir dan telinga akan turun tangan juga? Padahal aku sudah menahan mereka Terutama bibir ini yang ingin berteriak aku lelah mencintaimu Dan telinga ini Bisikan dari angin yang menyuruhnya untuk berhenti mencinta Tapi aku tidak sanggup menutup mata dan hati Mata ini selalu rindu oleh senyuman itu yang di baluri sinar senja Hati ini juga rindu, oleh sentuhan kasih yang lembut Dari pria yang entah sekarang dimana Rindu aku rindu Hingga meriang tubuh ini Di mana kau kasih? Ketahuilah tumpukan puisi ...
Keyakinan Teguh di genggamannya Sangat erat hingga keringat membasahi tangan Buku-buku jari memutih Hanya untuk cinta yang takut lari darinya Sepetik senar menggetarkan sunyi Mengisi ruang rindu Tubuhnya bersandar pada pelabuhan harapan dan sederet kata di kertas lusuh Baru sadar, jika puisi ini sebegitu menariknya Membuat Bulan tak nampak diri Bintang yang bersembunyi Membuat dia semakin kesepian di ujung pelabuhan

Kata Terakhir

Beberapa waktu yang lalu, saya mencintai seseorang Saya melewati masa-masa sulit Saya melewati tekanan yang bisa di bilang tidak biasa Umur saya memang masih muda Tapi saya tidak perlu menunggu cukup umur untuk meyakinkan diri saya bahwa yang saya rasakan Cinta atau sekedar rasa suka pada remaja umumnya Jika saya di suruh untuk menceritakan semua yang terjadi Saya tidak akan sanggup Jika pun saya menceritakan itu hanya sebagian dari cerita Bukan hanya sekedar Cinta bertepuk sebelah tangan Yang membuat semua sampai serumit ini adalah masa lalu Saya tidak bisa menerima dia karna masa lalunya Menurut saya masa lalu yang tidak bisa di toleransi Tapi saya salah Dia memang tidak bisa di bilang pria baik-baik Tapi saya sadar jika saya sendiri yang sudah mengubah dia menjadi pria yang lebih baik Jika dia melakukan kesalahan di masa lalu Saya juga demikian membuat kesalahan yang berakibat hingga ke depannya Saling menyakiti, menyayangi satu sama lain, tapi tidak dengan pengakua...
Hujan sudah berhenti, tapi mendung masih sedikit ada Burung merpati bersorak Raja siang mencoba untuk menembus kelabu Rantai-rantai di hidupku mulai lepas satu per satu Aku akan bebas Bendera festival mulai di susun Musik menggantikan kesunyian mu Kegelapan akan terlewati Bahkan sang Raja pun ikut turun ke desa untuk menari bersama Benteng kerajaan memang sudah runtuh Tapi itu tidak membuat kita lemah Karena kita yakin Yakin oleh digdaya Tuhan yang selalu ada di relung hati

Mata

Ada dua hal yang saya benci Saat kamu mengalihkan pandangan dari saya Dan saat kepala saya mendongak keatas untuk menahan air mata

Dia

Dia seperti duri yang tersebar di jalan setapak Selalu melukaiku setiap aku melangkah Membuatku terpaku di tempat Dia seperti petir di tengah hari cerah Selalu mengejutkanku dengan segala hal Dia seperti air asam yang menumpahi luka Dia selalu menambah rasa pedih di luka Dia seperti dinding untuk bersandar Dia selalu ada saat aku lelah Dia seperti hujan Dia selalu jatuh dari langit tapi selalu kembali Dia ada tapi tersamar oleh kelabu awan Dia tidak terlihat bagiku Tapi dia nyata Hanya untuk ku

Lingkaran Perasaan

Ketika jarum berkomitmen dengan sang benang Mereka saling berpaut dan menyatu Untuk menghasilkan rajutan yang indah Melintasi garis lintang bumi Mengalahkan karya dari surga Dari mata seorang adam Senyummu menggenang di mimpiku Di temani oleh sinar jingga Meracuni pikiranku Untuk mencintaimu kembali